Sabtu, 14 September 2013

Fabel: Semut Kecil dan Gajah Besar

Satu hal menyenangkan dari menulis cerita anak adalah otak kita dipenuhi dengan anak. Berbagai moral value berputar-putar berebut untuk tampil di dalamnya.

 


             Suatu hari di kerajaan rimba, Singa sang Raja hutan nampak murung. Ia sedih karena sudah tiga hari mahkota kebanggaanya hilang. Raja Singa pun memutuskan untuk mengadakan sayembara pencarian mahkota. Barang siapa yang mampu menemukan mahkota dan membawanya kembali pada Raja Singa, maka ia akan mendapatkan hadiah yang sangat besar.
            Mendengar berita kehilangan itu, Semut Kecil juga merasa sedih. Semut Kecil memutuskan untuk membantu Raja Singa mencari mahkotanya, tanpa mengharapkan hadiah yang akan diberikan Raja. Maka berangkatlah Semut Kecil menyusuri hutan. Di tengah perjalanan Semut Kecil bertemu dengan Gajah Besar.
Gajah Besar menyapa Semut Kecil, “Hai Semut Kecil! Kamu mau pergi ke mana membawa bekal banyak di punggungmu?”
“Aku hendak mencari mahkota Raja Singa yang hilang, Jah”, jawab Semut Kecil.
“Ahahaha... Apa aku tidak salah dengar? Mana mungkin kamu bisa menemukan mahkota Raja dengan tubuh kecilmu itu. Akulah yang akan menemukan mahkota Raja dan mendapatkan hadiahnya”, ejek Gajah Besar lalu pergi meninggalkan Semut Kecil.

Kamis, 12 September 2013

Wisuda Dekat Dompet Ketat

http://www.bccvoice.org/wp-content/uploads/2013/03/Graduation2.jpg


“Hadew… jane ana sing gratis tah orak tho?” Kalimat ini dilontarkan oleh teman kuliah saya saat sedang sibuk mengurus persiapan wisuda yang berarti “Aduh… sebenarnya ada yang gratis tidak sih?”

 

Wisuda adalah hal indah yang pasti dinanti-nanti oleh semua mahasiswa, karena di pesta perayaan kelulusan ini mahasiswa mendapatkan ijazah sebagai bukti kelulusan dan gelar sarjana yang disandang dibelakang nama diri. Namun demikian, untuk mendapatkan itu semua mahasiswa harus menyelesaikan berbagai persyaratan finansial yang kerap kali cukup menguras kantong.

Persyaratan finansial tersebut dapat berupa iuran wisuda, iuran yudisium, iuran BKOM, bebas perpustakaan, dan pembelian/ peminjaman toga. Belum ditambah pengeluaran lain seperti cetak dan jilid skripsi, foto ijazah dan uang kost. Hal ini yang kadang membuat mahasiswa dan orang tua merasa senang bercampur cemas saat mendekati hari wisuda.

BUDAYA WISUDA

Tampil maksimal saat wisuda menjadi hal yang kerap kali dilakukan mahasiswa sebagai wujud apresiasi hasil belajar di perguruan tinggi. Pada umumnya perempuan  lebih memperhatikan penampilan dibandingkan dengan laki-laki. Urusan penampilan ini sudah barang tentu menambah pengeluaran, apalagi di beberapa perguruan tinggi wisuda universitas dan wisuda fakultas dilaksanakan pada hari yang berbeda. Pengeluaran untuk penampilan dapat bertambah dua kali lipat.

Untuk mensiasatinya, sebagian mahasiswi memilih untuk tidak berdandan di salon. Mereka lebih memilih untuk berdandan sendiri atau meminta bantuan mahasiswa lain. Mahasiswa Prodi Seni Tari dan Kecantikan yang banyak dipilih untuk dimintai bantuan karena mereka telah mendapatkan mata kuliah yang di bidang tersebut.
             
Budaya lain saat wisuda adalah hadirnya orang tua, saudara atau kekasih sebagai pendamping wisudawan. Wisudawan tentu sangat mengharapkan kehadiran orang-orang terdekat untuk mendampingi dan memeriahkan hari perayaan kelulusan. Untuk itu budget lebih tentu harus dipersiapkan apabila jarak tempat tinggal dan universitas relatif jauh. 

Jadi, bijak dalam mengatur keuangan sangatlah diperlukan sebagai langkah persiapan menyambut hari perayaan kelulusan, wisuda. Jangan sampai hari bahagia menjadi derita gara-gara dompet yang menipis. Happy Graduation... :)